Tulang Bawang: Kota Tertua di Propinsi Lampung

Tulang Bawang: Kota Tertua di Propinsi Lampung – Lampung adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Provinsi  ini berada di ujung bagian selatan pulau Sumatra. Letaknya tidak jauh dengan Ibu Kota Negara Republik Indonesia yaitu Jakarta.

 

 
Waktu tempuh untuk menuju Jakarta – Bandar Lampung memakan waktu 7-8 jam. Bandar Lampung merupakan Ibu Kota daerah Lampung. Rute perjalanan yang di lewati dari Jakarta – Bandar Lampung yaitu Jakarta – Pelabuhan Merak, Banten – Pelabuhan Bakauheni.
 
Jarak dari Pelabuhan Bakauheni ke kota Bandar Lampung memakan waktu tempuh selama 2 jam perjalanan darat. Bila menggunakan perjalanan udara atau  pesawat waktu yang di tempuh hanya 40 menit dari Bandara Soekarno Hatta – Bandara Raden Intan. Letak Geografis kota Lampung berada pada 6º 45′ – 3º 45′ Lintang Selatan  dan 103º 48′ – 105º 45′ Bujur Timur.
 
Provinsi ini merayakan hari jadinya setiap pada tanggal 18 Maret 1964. Lampung berada di dekat gunung Krakatau yang berada di tengah perairan jawa. Ketika kita meyebrang dari Pelabuhan Merak, Banten ke Pelabuhan Bakauheni maka kita akan melewati anak Gunung Krakatau itu.
Kata LAMPUNG sendiri berawal dari kata Anjak Lambung yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi.
Lampung memiliki suatu kota tua yang merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yaitu Kota Tulang Bawang. Kota ini menjadi saksi sejarah kekuatan Kerajaan Sriwijaya pada masa puncak kejayaannya. Kemudian di daerah lampung dialek yang di gunakan dalam bahasa lampung memiliki banyak perbedaan pada setiap daerahnya.
 
Ini terjadi di karenakan adanya proses alkulturasi bahasa karena masuknya suku lain di daerah lampung. Ada yang unik dalam membedakan ras asli suku lampung. Suku asli lampung memiliki kulit yang putih bersih, dengan rambut lurus dan hitam serta mata yang sipit. Suku asli lampung hampir sama rasnya dengan suku Tionghoa.  
 
Provinsi ini memiliki luas 35.376 km2  dengan kepadatan penduduk  7.348.623  pada tahun 2007. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda Lampung merupakan salah satu tujuan Transmigrasi dari pulau jawa. Hal ini dilakukan karena pada saat itu pulau jawa sangat padat dan transmigrasi dilakukan guna adanya pemerataan kehidupan masyarakatnya.
 

Kota Tua di Propinsi Lampung

Monumen Kota Tua Tulang Bawang Lampung
Gambar: Monumen Kota Tua Tulang Bawang Lampung
 
Dalam sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara, Tulang Bawang digambarkan merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, disamping kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai, dan Tarumanegara. Catatan Cina kuno menyebutkan pada pertengahan abad ke-4 seorang pejiarah Agama Budha yang bernama Fa-Hien, pernah singgah di sebuah kerajaan yang makmur dan berjaya, To-Lang P’o-Hwang (Tulang Bawang) di pedalaman Chrqse (pulau emas Sumatera).
 
Sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan pusat kerajaan Tulang Bawang,namun ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan initerletak di hulu Way Tulang Bawang (antara Menggala dan Pagardewa) kurang lebih dalam radius 20 km dari pusat kota Menggala.
 
Seiring dengan makin berkembangnya kerajaan Che-Li-P’o Chie (Sriwijaya), nama dan kebesaran Tulang Bawang sedikit demi sedikit semakin pudar. Akhirnya sulit sekali mendapatkan catatan sejarah mengenai perkembangan kerajaanini.
 
Ketika Islam mulai masuk ke bumi Nusantara sekitar abad ke-15, Menggala dan alur sungai Tulang Bawang yang kembali marak dengan aneka komoditi, mulai kembali di kenal Eropa. Menggala dengan komoditi andalannya Lada Hitam, menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan komoditi sejenis yang didapat VOC dari Bandar Banten.
 
Perdagangan yang terus berkembang, menyebabkan denyut nadi Sungai Tulang Bawang semakin kencang, dan pada masa itu kota Menggala dijadikan dermaga, tempat bersandarnya kapal-kapal dari berbagai pelosok Nusantara, termasuk Singapura.
 
Perkembangan politik Pemerintahan Belanda yang terus berubah, membawa dampak dengan ditetapkanya Lampung berada dibawah pengawasan langsung Gubernur Jenderal Herman Wiliam Deandles mulai tanggal 22 November 1808. Hal ini berimbas pada penataan sistem pemerintahan adat yang merupakan salah satu upaya Belanda untuk mendapatkan simpati masyarakat.
 
Pemerintahan adat mulai ditata sedemikian rupa, sehingga terbentuk Pemerintahan Marga yang dipimpin oleh Kepala Marga (Kebuayan). Wilayah Tulang Bawang sendiri dibagi dalam 3 kebuayan, yaitu Buay Bulan, Buay Tegamoan dan Buay Umpu (tahun 1914,menyusul dibentuk Buay Aji).
 
Sistem Pemerintahan Marga tidak berjalan lama, dan pada tahun 1864 sesuai dengan Keputusan Kesiden Lampung No. 362/12 tanggal 31 Mei 1864, dibentuk sistem Pemerintahan Pesirah. Sejak itu pembangunan berbagai fasilitas untuk kepentingan kolonial Belanda mulai dilakukan termasukdi Kabupaten Tulang Bawang.
 
Pada zaman pendudukan Jepang, tidak banyak perubahan yang terjadi di daerah yang dijuluki “Sai Bumi Nengah Nyappur” ini. Dan akhirnya sesudah Proklamasi kemerdekaan RI, saat Lampung ditetapkan sebagai wilayah Propinsi Sumatera Selatan, Tulang Bawang dijadikan kota tua di provinsi Lampung.
 
Baca juga: Masjid Tertua di Lampung

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*