Pengertian Resection dan Langkah-langkahnya

Pengertian Resection. Resection  atau disebut juga cross bearing technic merupakan suatu teknik dalam menentukan titik koordinat kedudukan di peta saat berada di lapangan dengan menggunakan bantuan dua tanda medan atau lebih yang kelihatan di lapangan  dan diketahui di peta yang akan digunakan untuk sasaran bidikan kompas, (pada beberapa kasus cukup dengan satu tanda medan).

Teknik resection membutuhkan bentangan alam terbuka untuk dapat menentukan dan membidik tanda medan, seluruh tanda dan bentuk medan tidak seluruhnya mesti dibidik dengan kompas.

Tanda-tanda medan yang dibidik merupakan tanda medan yang telah pasti diketahui di lapangan dan penggambarannya di peta. Keberhasilan teknik resection dalam menentukan titik koordinat suatu tempat di peta sangat tergantung dari benar-tidaknya dalam melakukan orientasi medan. Jika salah dalam menyamakan tanda-tanda medan yang dibidik maka hasil yang didapat dalam resectionpun akan salah.

Langkah-langkah Resection

Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam teknik resection adalah sebagai berikut:

Pengertian Resection dan Langkah-langkahnya
Gambar: Langkah-langkah Resection

1. Orientasikan peta dengan benar, kemudian lakukan orientasi medan terhadap tanda dan bentuk medan yang ada dengan tepat.

2. Tandai kedudukan dari dua titik tanda medan atau lebih yang sudah diamati baik di lapangan maupun di peta, misalnya tanda medan A dan tanda medan B

3. Bidikkan kompas ke titik ‘A’ dan ‘B’, catat nilai azimuthnya
Misal :
Titik  A  =  3150
Titik  B  =    370

4. Hitung nilai back azimuth dari kedua titik tersebut, yaitu:
Titik  A  =  315º  –   180º  =   135º
Titik  B  =    37º  +  180º  =   217º

5. Tarik garis (plotting) dari titik A sebesar nilai  back azimuth A dengan meletakkan pusat simetris (indeks) protractor pada titik A yang telah ditentukan di peta dengan menggunakan benang tengah protractor.

6. Tarik lagi garis dari titik B sebesar nilai back azimuth B seperti yang dilakukan terhadap titik A dan akan terjadi perpotongan antara garis back azimuth A dengan garis back azimuth B.

7. Titik perpotongan dari dua nilai garis back azimuth titik A dan B tersebut adalah tempat kedudukan kita berada, misalnya titik  ‘C’

8. Tentukan koordinatnya dengan menggunakan koordinat geografis (cara mekasis atau matematis), dan atau koordinat UTM (menggunakan sistem 6 angka, 8 angka, 10 angka atau lengkap 14 angka).

9. Sebutkan atau tulis koordinatnya dengan standar penulisan koordinat peta yaitu menyebutkan judul dan lembar peta kemudian titik koordinatnya.

10. Selesai . . . . . . . ,

Resection dengan Satu Tanda Medan

Secara umum teknik resection membutuhkan minimal dua tanda medan untuk mendapatkan perpotongan garis nilai back azimuth, namun pada kasus-kasus tertentu dengan hanya mendapatkan satu nilai back azimuth tanda medan saja maka teknik resection dapat dilakukan.

Jika sedang berada di tepi sungai, jalan setapak, sepanjang jalan, sepanjang punggungan kecil (spur) atau lembah kecil (draw), maka hanya perlu mencari satu tanda medan lagi untuk mendapatkan nilai back azimut, dengan syarat jalan, punggungan, lembahan atau sungai tempat kita berada telah diketahui di peta dan arahnya kontras (bersilangan) dengan nilai back azimuth tanda medan akan dibidik.

Jalan, sungai, punggungan dan lembahan merupakan ‘garis alam’ yang tergambar pada peta topografi.

Resection dengan Altimeter

Disamping teknik klasik yang umum dilakukan dalam resection, teknik lainnya juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan alat bantu altimeter. Penggunaan altimeter ini dalam resection dapat dilakukan jika berada pada beberapa tempat, diantaranya:

 Punggungan yang telah diketahui di peta, pada punggungan jalur pendakian biasanya telah ada jalan setapak

 Lembahan yang telah diketahui di peta.
Penggunaan altimeter dalam menentukan titik koordinat di peta saat berada di lapangan adalah seperti contoh kasus berikut:

 Misalnya sedang berada pada sebuah punggungan yang sejak awal perjalanan punggungan tersebut telah diketahui dengan pasti di peta dan perjalanan sudah direncanakan berada pada punggungan tersebut hingga batas titik tertentu.

 Jika di tengah perjalanan ingin mengetahui posisi koordinat di peta, buka peta dan cari punggungan yang telah ditandai (plotting) jalur perjalanannya tersebut

 Ambil altimeter dan lihat hasil nilai yang ditunjukkan oleh alat altimeter tersebut. Pada altimeter digital (seperti yang terdapat pada jam tangan) beberapa saat setelah menekan tombol maka nilai ketinggian langsung bisa didapatkan, sedangkan pada altimeter analog penunjukan jarumnya akan stabil setelah menunggu beberapa saat setelah tergoyang-goyang saat dibawa dalam saku atau ransel.

Sering terjadi nilai yang ditunjukkan jarum altimeter analog pada sore hari akan berbeda beberapa meter saat dilihat keesokan harinya.

 Catat nilai ketinggian yang ditunjukkan altimeter, cari dan hitung ketinggian kontur yang telah diplot pada peta sesuai dengan ketinggian yang ditunjukkan oleh altimeter

 Perpotongan antara plotting jalur di punggungan dengan nilai ketinggian kontur yang telah dihitung berdasarkan penunjukan altimeter adalah posisi keberadaan di peta.

 Catat titik koordinatnya, menggunakan koordinat geografis atau koordinat UTM/grid.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*